“Shibghah Allah dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan hanya kepada-Nya-lah Kami menyembah.” (QS. Al Baqorah : 138).

Kamis, 21 Juli 2011

Al-Wafa (Memenuhi Janji)


“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan Hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)


 Israil adalah sebutan bagi nabi Ya’qub. Bani Israil adalah turunan nabi Ya’qub; sekarang terkenal dengan bangsa Yahudi.  Janji Bani Israil kepada Tuhan ialah: bahwa mereka akan menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, serta beriman kepada rasul-rasul-Nya di antaranya nabi Muhammad SAW sebagaimana yang tersebut di dalam Taurat.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Maidah: 1)

Aqad (perjanjian) mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya.

"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa’: 34)

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. AS-Shaf: 2-3)

“Ada empat hal yang jika berada pada seseorang ia menjadi munafik murni dan barangsiapa terdapat satu sifat darinya maka padanya terdapat satu sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya; jika diberi kepercayaan ia berkhianat, jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika bertikai ia jahat.” (Muttafaq Alaihi).

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (Muttafaq Alaihi). Ditambahkan dalam riwayat Muslim, “Kendatipun ia berpuasa, shalat, dan mengaku sebagai orang Muslim.”

Jabir RA bercerita,
“Nabi berkata kepadaku, ‘Kalau harta Bahrain datang aku akan memberimu segini, segini, dan segini.” Ternyata harta Bahrain tidak pernah datang hingga beliau meninggal. Lalu ketika harta Bahrain itu datang Abu Bakar menyuruh orang untuk memanggil, ‘Barangsiapa yang mempunyai piutang kepada Rasulullah hendaknya datang kepada kami niscaya aku akan membayarnya. Aku berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah berkata kepadaku begini dan begitu. Kemudian ia mengambil satu genggam untukku dan aku menghitungnya. Ternyata ia berjumlah lima ratus. Abu Bakar berkata lagi, “Ambillah dua gini lagi.” (Muttafaq Alaihi).

Menepati janji merupakan:
a.     Kewajiban syar’i, baik terhadap sesama muslim maupun antara muslim dan non-muslim. Contoh perjanjian antara muslim dan non-muslim di masa Rasulullah SAW adalah
-Piagam Madinah antara umat Islam dan Yahudi
-Perjanjian Hudhaibiyah
Termasuk di dalam masalah ini adalah menepati waktu perjanjian, sebagaimana dalam surat at-Taubah ayat 4 dan hadits Rasulullah SAW:
“Ketahuilah barangsiapa yang menzhalimi orang yang mendapat suaka atau menghinanya atau memberi beban di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaannya, maka saya adalah penuntutnya di hari kiamat” (HR Abu Dawud)
b.    Akhlak yang utama
c.     Ciri tingginya peradaban 
d.    Sifat-sifat Mu’min dan Ulul-albab 
e.     Merupakan jenis kebajikan 
f.     Merupakan akhlak imaniyah 
g.    Akhlak para Nabi dan Rasul .
Contohnya pada kisah Nabi Ismail:“Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54)
Sifat menepati janji ini menurun ke Bangsa Arab.
h.     h. Seruan agama yang Robbani

Janji-janji yang sering dibuat oleh seseorang
a.     Janji kepada keluarga, (anak dan  istri)
b.    Janji kepada bawahan atau orang yang levelnya lebih rendah dari dirinya dalam suatu unit pekerjaan, dsb.
c.     Janji kepada teman sejawat/sebaya
d.    Janji kepada rekanan bisinis
e.     Janji kepada orang-orang tertentu sesuai profesi atau lingkungan masing-masing.

Kewajiban tepati janji dan ancaman bagi yang tidak menepatinya
a.     Tidak menepati janji adalah salah satu ciri kemunafikan. Rasulullah bersabda: “Ada empat hal jika ada pada seseorang maka jadilah ia munafik tulen, dan jika ada sebagiannya maka ia memiliki ciri-ciri kemunafikan, hingga ia bisa meninggalkannya. 1). Jika dipercaya ia berkhianat, 2). Jika berbicara ia berdusta, 3). Jika berjanji mengingkari, 4). Jika berdebat ia curang.” (Muttafaq alaih)
b.    Menjadi musuh Allah di hari kiamat. Rasulullah saw bersabda: Allah berfirman ”Ada tiga orang yang menjadi musuhku di hari kiamat:1). Orang yang menjanjikan pemberian lalu mengingkari, 2). Orang yang menjual orang merdeka lalu ia makan hasilnya, 3). Orang yang mempekerjakan seseorang dan telah memenuhi permintaannya lalu tidak dibayarkan upahnya.” (HR. Al Bukhari)
c.     Salah satu bentuk kezhaliman. Rasulullah saw bersabda: “Orang kaya yang menunda-nunda pembayaran utang adalah perbuatan zhalim….” (Muttafaq alaih)

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites